-->

Kehidupan, Cerita, dan Kenangan

Ilustrasi Modelling

    Hai, apa kabar? Senang bisa kembali lagi di sini, dalam catatan tulisanku, Hariry. Sudah cukup lama sejak terakhir kali singgah di sini, mungkin sudah sekitar empat tahun lebih. Aku pun rasanya seperti sedang nostalgia dan ada kerinduan yang sulit untuk dikatakan, jadi aku ingin mencoba menulis beberapa hal kembali. 

    Awalnya, aku hanya sedang merasa jenuh dan suntuk dari tugas pekerjaan. Sudah hampir satu bulan terakhir aku berkutat di depan laptop saja, menyelesaikan tugas modelling yang cukup kompleks. Hampir sepanjang hari menatap layar dan menggerakan tetikus - kamu mungkin mengenalnya sebagai mouse, dengan lincah. Membuat garis, bidang, dan geometri hingga membentuk model adalah pekerjaan sehari-hari. Ada baiknya sejenak pergi jalan-jalan keluar, itu opsi yang paling bagus untuk merelaksasikan mata dan pergelangan tangan yang sudah kaku bagaikan gorengan krispi ini. Terkadang, membaca buku juga menjadi opsi untuk refresh pikiran, hanya saja kalau bisa ada opsi yang paling ku sukai yaitu merebahkan badan sambil bermain game atau scrolling media sosial memantau update terkini. Dasar aku ini memang kaum rebahan, hahah 😄.

    Saat membuka akun media sosial, teringat untuk membuat suatu konten. Tapi apa ya, aku selalu kesulitan untuk itu. Aku membuka file di galeri, entah mengapa kemudian aku merasa perlu untuk merapikan beberapa foto dan album yang ada di galeri dan google foto. Kalau dipikir-pikir, ada baiknya juga memfilter foto yang relevan di galeri, toh pas aku cek ternyata jumlah filenya sudah mencapai total 54.771 item! bercampur antara foto kerjaan dan lain sebagainya. Baiklah, saatnya mulai merapikan. Jadi skema yang aku lakukan dalam perapihan ini adalah : pertama, scroll sampai posisi terbawah; kedua, mulai memindahkan item foto/video itu ke album yang relevan - buat album yang belum tersedia aku perlu buat terlebih dahulu; ketiga, memilih menghapus item tersebut yang dianggap tidak berkesan/penting.

Ilustrasi Masa Menengah Pertama

     Kira - kira sudah empat jam lebih merapikan file-file ini, tidak terasa waktu cepat berlalu, beberapa item mulai dari lini waktu demi waktu terlewati, tahun demi tahun terganti, dan momen demi momen tersebut terkategori, itupun belum semuanya diselesaikan. Tapi aku cukup menikmati prosesnya, melihat foto - foto itu rasanya seperti ia bercerita padaku kejadian saat itu. Misalnya beberapa foto saat masa menengah pertama, ternyata aku masih sepolos itu ya. Masa mulai mengenal lingkungan dan dunia, belajar organisasi, memupuk percaya diri, pengalaman pahit pertama, kejadian baik dan buruk, serta masa di mana ingin mencoba banyak hal. Aku ingat, di mana aku pernah merasa terbuang dan tidak diuntungkan - saat itu ya, karena masuk ke sana atas pilihan orang tua. Konteksnya saat itu adalah aku satu - satunya yang bersekolah di sana dari sekolah dasar dan tidak ada teman satu pun. Atau kejadian yang memalukan saat aku ditertawakan di hadapan banyak orang saat acara tiap pekan sekolah - kamu bisa membacanya di sini, Rasa Takut. Ya walaupun di masa saat ini, aku bisa mengatakan cukup merasa beruntung atas pilihan itu, di sana menjadi pondasi awal titik balik & perjuangan, terutama saat menjadi bagian Pramuka Ambalan Teuku Umar & Dewi Sartika serta OSIS yang menjadi wadahku bertumbuh & berkembang.

Ilustrasi Masa Menengah Atas

    Lalu beberapa foto masa menengah atas, ini masa mengambil keputusan yang tidak mudah, merantau. Menempuh jenjang sekolah formal sembari menimba ilmu di pondok pesantren atas pilihan sendiri. Walaupun agak berat rasanya harus pergi meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lumayan panjang. Harus diakui awalnya merasa shock culture dan rasanya seperti di penjara, dini hari dibangunkan, pagi hingga siang bersekolah, sore dan malam mengaji, begitu terus roda siklus hariannya. Sampai ada beberapa kawan yang mencoba untuk melarikan diri, haha - mungkin bisa dibahas lain waktu karena banyak sekali ceritanya. Namun, bagiku di sana seperti rumah kedua, dan kehidupan baru. Bertemu dengan orang dari berbagai daerah dan usia, bahasa yang berbeda, watak dan perilaku yang berbeda pula. Satu hal yang pasti bahwa pondok pesantren bagaikan miniatur kehidupan, bahwa di sana aku banyak belajar bukan hanya tentang ilmu agama, melainkan kehidupan nyata bermasyarakat dalam versi yang lebih sempit. Kemudian aku pisahkan dan masukkan foto-foto itu sebagai kategori masa menengah atas.

    Kemudian foto aku lihat diriku berpakaian hitam putih dan memakai masker berfoto di depan salah satu kampus di Yogyakarta. Ini mengingatkan bahwa aku lulus menengah atas saat dunia sedang dilanda pandemi Covid-19, karenanya berpergian harus memakai masker dan tentu saja harus sudah dilakukan tes Swab Antigen dan atau PCR yaa. Lalu, mengingatkan pada masa perjuangan masuk perguruan tinggi. Dan yaa, masa ini aku jadi belajar makna tentang "sembuh" dan "berdamai". Awal masa kuliah adalah proses yang berat dan terasa panjang untuk dilalui, mungkin hampir mencapai titik nadir. Ada "luka" yang pada dasarnya bukan kesalahan siapapun, dan yang bisa disalahkan hanya diri sendiri. Aku belajar satu hal, keyakinan pada Tuhan itu harus mutlak meski tidak mudah. Jika saat masa menengah atas aku belajar teorinya, maka masa kuliah aku belajar prakteknya. Bahwa Tuhan punya kehendaknya sendiri, absolut. Kita suka atau tidak suka, tapi selama kita menerima itu pasti adalah hal baik yang tidak terduga. Usaha sudah dilakukan, rencana sudah tersusun dengan berbagai pilihan.. dan yap, jika Tuhan tidak berkehendak, tidak ada yang mampu memaksa-Nya. Tapi, selalu ada hal atau cara yang seolah - olah Tuhan berikan untuk mengatakan bahwa "Akulah pemilik Skenario Terbaik itu". Selama empat tahun menjalani masa itu, banyak hal baik yang terjadi - tidak menafikan beberapa yang buruk juga ada tapi bukan itu poinnya. Relasi yang terbangun, pencapaian yang datang, kepercayaan yang diberikan, dan support system yang baik, seolah memberikan jalan bahwa "Kamu pasti bisa". Melihat kembali foto-foto ini, tidak ada kemarahan lagi, tidak ada penyesalan lagi, semua itu sudah berlalu.

    Ternyata, luka yang sembuh itu tidak selalu hilang, beberapa mungkin menimbulkan bekas yang cukup kentara, tapi saat menyentuhnya lagi, rasa sakit itu sudah tidak terasa. Mungkin rasa "sakit"nya masih tetap ada, namun tidak terasa lagi karena kita sudah membatasi ruang untuk rasa sakit itu sendiri. Seperti yang R. Melzack & Patrick Wall gagas dalam teori Gate Control Theory of Pain, bahwa rasa sakit itu diatur oleh "gerbang" yang bisa dibuka-tutup oleh sinyal tubuh & pikiran. Aku baru menyadarinya, mungkin salah satu faktor untuk menutup gerbang rasa sakit itu adalah perasaan ridha' dan damai terhadap apa yang menjadi takdir dan kehendak Sang Pencipta. Perasaan itu yang akan memberikan sinyal untuk memperlambat atau bahkan menutup sinyal rasa sakit ke otak sehingga rasa sakit yang diterima melemah dan sedikit - mungkin sama sekali tidak terasa. Pendapatku, itulah kenapa dulu para pejuang agama - khususnya dalam Islam, mampu bertahan adalah karena selain pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala, mereka juga merasa ridha dan damai atas kehendak-Nya. 

    Pada akhirnya, semua itu adalah cerita & kenangan masa lampau yang mungkin saat sedang menjalani terlihat biasa saja atau bahkan menyakitkan, sampai saat berlalu baru terasa berharga dan berkesan. Persis seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang filsuf, "Life can only be understood backwards, but it must be lived forwards". Aku bersyukur pada Allah subhanahu wa ta'ala yang sejak awal selalu mempertemukanku dengan orang - orang yang baik. Mereka yang tetap hadir atau hanya sekilas menjadi bagian dari perjalananku ini, semoga kalian sehat selalu ya, dipertemukan oleh orang-orang baik juga. Terlebih untuk kamu semua dalam keluargaku - Ibu, Bapak, Kakak, dan Adik - mungkin butuh satu tulisan tersendiri untuk menceritakan kisah dengan mereka.

    Apapun itu terima kasih banyak, yang sudah bertahan sampai detik ini, termasuk membaca sampai akhir, see ya.. 😊

"(Mereka berdoa,) 'Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi'.{Q.S Ali Imran : 8}

Jakarta,    Mei 2026 

Hariry

.

.

.

Referensi Gate Control Theory of Pain, bisa baca di :

https://www.physio-pedia.com/Gate_Control_Theory_of_Pain
 
https://psikologi.unesa.ac.id/post/payquick-bagaimana-pikiran-mengatur-rasa sakit-memahami-gate-control-theory
 
https://www.science.org/doi/10.1126/science.150.3699.971