-->

Do'a yang Dipanjatkan itu Bernama Realita

Ilustrasi Nongkrrong

    Halo, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga sehat selalu ya. Senang rasanya bisa kembali meluangkan waktu sebentar untuk singgah di sini, di catatan kecilku, Hariry.

    Aku merasa akhir-akhir ini waktu berjalan begitu cepat. Sampai - sampai, terkadang aku merasa selalu tertinggal dari yang lain. Entah karena melihat pencapaian orang lain, atau memang karena terlalu banyak hal yang ingin kucapai. Padahal, kalau dipikir - pikir dan dilihat secara jujur, nyatanya tidak selambat dan setertinggal itu, kok. Hanya saja, terkadang lupa bahwa berjalan lambat itu tidak selalu buruk. 

    Beberapa minggu yang lalu, aku dan dua orang kawanku pergi untuk bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa karena sama - sama sibuk di perantauan masing - masing. Sebenarnya, rencana kami pergi berempat, tapi kawan ketiga yang satu ini selalu bentrok waktunya. Maklum, dia orang penting, hahaha😁.

    Pagi menjelang siang itu kami pergi untuk nongkrong, hanya pertemuan sederhana antara kawan lama. Saling bertukar cerita masing-masing di perantauan, mulai dari karir, kehidupan, asmara, masa-masa kuliah dulu, hingga cerita-cerita receh yang entah bagaimana itu juga perlu dalam obrolan. Rasanya senang bisa melihat dan mendengarkan kalian berdua berceloteh ke sana kemari. Ada perasaan lega saat menyadari bahwa kalian adalah sosok yang sama seperti yang kukenal dulu, iya tidak dipungkiri ada beberapa perubahan, tentu saja karena proses dalam menempuh jalan kehidupan masing - masing.

    Obrolan itu kemudian membawaku mengingat masa - masa ketika dulu kami masih berstatus mahasiswa magang di sebuah proyek Pembangunan Gelanggang Olahraga. Kala itu, di sela-sela kesibukan aktivitas magang dan perkuliahan, ada banyak hal yang harus kami hadapi. Apalagi saat itu bertepatan pula dengan masa -masa menjelang pergantian pengurus himpunan periode kami, ditambah aktivitas lapangan  -terlebih lagi kejadian menegangkan yang menimpa diriku sendiri, mungkin itu nanti kita bahas lain waktu saja. Untung saja kami bisa melewatinya.

    Di tengah kesibukan tersebut, kami pernah membicarakan hal yang serupa dengan obrolan hari ini, yaitu : tentang harapan dan karier setelah lulus kuliah. Kawanku yang pertama, sebut saja Gum, pernah bercerita bahwa ia ingin bekerja di perusahaan BUMN Karya. Lalu kawanku yang kedua, sebut saja Han, punya harapan untuk masuk dunia pertambangan. Sementara Aku sendiri, juga punya harapan bekerja pada bidang konstruksi jalan & jembatan. Dan kawan ketigaku, yang saat ini belum bisa hadir, sebut saja Lan. Dulu, apa ya harapanmu? Hmmm.., rasanya dia hanya berharap bisa bekerja dalam satu perusahaan yang sama dengan kami semua, hahaha. Maaf ya Lan, kamu bisa koreksi harapanmu waktu itu kalau berbeda jika kamu membaca tulisan ini. :D

Ilustrasi Pekerjaan

    Waktu itu, kami mengganggap obrolan itu hanya sebuah percakapan biasa yang dibalut dengan harapan kecil. Bukan karena kami tidak serius menginginkannya, melainkan rasanya bagi kami itu untuk mencapai ke sana adalah sebuah perjalanan yang begitu jauh. Ada banyak hal yang harus diusahakan dan banyak kemungkinan yang belum kami ketahui. Namun, siapa sangka, beberapa tahun kemudian, hal-hal yang pernah kami bicarakan sambil lalu itu justru menjadi bagian dari kehidupan kami sekarang. Layaknya sebuah manifestasi do'a yang tulus, kini aku tambah meyakini bahwa ungkapan :"Ucapan adalah do'a", dan "Tuhan, Allah Subhanau Wa Ta'ala, mendengar dan menjawab segala do'a" adalah benar adanya meskipun bagaimana dan kapan doa itu dijawab bukan selalu sesuatu yang bisa kita pahami sepenuhnya.

    Waktu itu, kami mungkin tidak benar-benar menyadari betapa seriusnya harapan yang kami ucapkan. Kami hanya membicarakan apa yang ingin kami capai setelah lulus kuliah, lalu melanjutkan kehidupan masing-masing. Hingga akhirnya, dengan izin Allah Subhanau Wa Ta'ala dan segala proses yang menyertainya, kami sampai di titik yang dahulu pernah kami harapkan. Namun, ada satu hal yang menarik dari hal itu, ternyata apa yang dahulu kami harapkan, kini justru menjadi bagian dari kehidupan yang sering kami keluhkan. Agak ironi memang. Kita berjuang untuk mendapatkan sesuatu, lalu setelah mendapatkannya, kita mulai mengeluhkan hal-hal yang datang bersamanya.

    Mungkin memang seperti itulah manusia. Sesuatu yang dahulu terasa istimewa, setelah dijalani sekian lama, perlahan bisa menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari atau bahkan jadi terasa tidak menyenangkan.  Bukan berarti karena kita tidak bersyukur, tetapi bisa jadi diri kita menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan yang memengaruhi kesejahteraan kita,  proses ini dikenal sebagai hedonic adaptation. Pekerjaan yang dahulu begitu kita inginkan akhirnya menjadi rutinitas, lengkap dengan segala persoalannya. Karena ketika masih berada di luar, kita lebih banyak membayangkan apa yang ingin didapatkan. Setelah berada di dalamnya, kita mulai mengenal hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat. Bukan berarti keinginan kita dahulu keliru, melainkan karena sekarang kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

    Lucu juga kalau dipikir-pikir. Dahulu, kami berharap bisa bekerja di bidang yang kami impikan. Sekarang, setelah benar-benar menjalaninya, justru banyak hal yang kami keluhkan. Mulai dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, pekerjaan yang menguras energi, hingga berbagai persoalan yang rasanya tidak ada habisnya.

Menyadari hal itu, kami bertiga hanya bisa tertawa.

   Dulu, ketika belum mendapatkan pekerjaan, kita berharap bisa segera bekerja. Setelah mendapatkan pekerjaan, kita mulai memikirkan jenjang karier. Ketika sudah memiliki tanggung jawab, kita berharap bisa mendapatkan posisi yang lebih baik. Lalu, ketika sudah sampai di posisi itu, muncul lagi hal-hal lain yang ingin kita capai. Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan. Ambisi juga bukan sesuatu yang buruk. Kita tentu perlu punya tujuan, berusaha, dan terus mengembangkan diri.

    Namun, terkadang aku berpikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa melihat apa saja yang sudah berhasil kita lewati. Kita sibuk memikirkan jarak antara diri kita hari ini dan diri kita yang ingin kita capai nanti. Kita membandingkan pencapaian, memperhitungkan waktu, dan merasa perlu bergerak lebih cepat. Padahal, jika sesekali menoleh ke belakang, mungkin ada banyak hal yang sebenarnya patut kita syukuri. Aku pun sendiri sering merasakan hal yang sama. Ada kalanya aku merasa tertinggal, seolah-olah orang lain sudah berjalan begitu jauh sementara aku masih berkutat dengan persoalanku sendiri.

  Dan pertemuan hari itu seperti mengingatkanku kembali pada sesuatu. Barangkali, masalahnya bukan karena doa kami tidak terjawab, bukan pula karena kami selalu tertinggal atau kalah dari orang lain. Bisa jadi, seiring berjalannya waktu, ekspektasi kami terus bertambah, sementara kami lupa bahwa kehidupan yang sedang dijalani hari ini pun pernah menjadi bagian dari harapan masa lalu. Karena bisa jadi pada akhirnya, kita baru menyadari bahwa sebuah doa telah dikabulkan setelah kita berhenti sejenak dari mengejar doa yang berikutnya.

    Mungkin, suatu hari nanti, ketika kami kembali duduk bersama, akan ada cerita lain yang kami bicarakan. Tentang pencapaian yang sekarang belum terwujud, tentang harapan-harapan baru, atau mungkin tentang hal-hal yang saat ini masih terasa jauh untuk dijangkau. Dan mungkin, saat itu, kami akan kembali menertawakan sesuatu yang hari ini belum kami pahami.

    Saat hari mulai menjelang malam, kami pun berpisah dan kembali ke rutinitas masing-masing. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dengan cerita yang lebih seru dan lebih receh, kawan. Dan pastikan, kawan ketiga kita, Lan, kali ini bisa ikut bergabung untuk melengkapi ceritanya.

    Sehat-sehat selalu, ya, kalian. Semoga segala hal baik yang sedang kita usahakan hari ini bisa menemukan jalannya masing-masing.

Sampai bertemu di cerita berikutnya.

"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." {HR Bukhari dan Muslim}.

 

Jakarta,    October 2026 

Hariry

.

.

.


Referensi, bisa baca di :

https://jateng.nu.or.id/taushiyah/lihatlah-yang-di-bawah-agar-kita-pandai-bersyukur-tbuG7.

https://labs.psychology.illinois.edu/~ediener/Documents/Diener-Lucas-Scollon_2006.pdf